SAMPAIKAN KRITIK, MASUKAN ATAU SARAN ANDA MENGENAI BLOG KAMI DENGAN SMS KE 021-70522100 ATAU EMAIL KE galihgumelar@gmail.com....:::...Terima Kasih Bagi Anda yang telah memberikan masukan kepada kami, semoga kami dapat lebih baik lagi memberikan informasi dan lain sebagainya.

Lebih Enak Mandiri

Berumrah & Berhaji -Kegiatan ibadah apa pun yang dilaksanakan di Tanah Suci terasa nikmat. Banyak jamaah haji yang mengalami pengalaman rohani yang mengesankan tiada tara selama di Tanah Suci. Itulah sebabnya, mengapa banyak orang yang sudah berhaji selalu rindu untuk kembali melihat Ka'bah.

Untuk bisa menghayati ibadah haji, persiapan jamaah harus matang. Selain soal fisik, makan, pakaian, bekal, penginapan, dan lain-lain, persiapan ibadah juga harus mantap. Banyak pembimbing haji ketika di Tanah Air meninabobokkan jamaah dengan kata-kata 'Bapak Ibu, kalau tidak hafal doa-doa jangan khawatir. Nanti di sana dibimbing, tinggal mengikuti saja.'' Pesan-pesan seperti ini sering membuai jamaah. Akibatnya banyak yang berangkat hanya dengan bekal mengandalkan pembimbing.

Pada kenyataannya pembimbing haji tak selalu bisa jadi andalan di lapangan. Banyak kegiatan yang akhirnya dilakukan secara mandiri oleh jamaah haji. Saat tawaf misalnya, sulit untuk tetap berjalan dengan rombongan besar. Dengan kelompok kecil 10 orang saja, sudah hampir pasti bercerai--berarti di tengah kerumunan ratusan ribu orang. Jika jamaah tak menyiapkan diri, akan kebingungan menyelesaikan ibadah. Banyak terjadi jamaah yang terlepas dari rombongan saat tawaf akhirnya pulang ke penginapan sebelum menyelesaikan sa'i. Ada juga yang selesai sa'i sudah pulang sebelum tahalul.

Kalaupun masih bisa tetap bersama pembimbing, biasanya hanya pada saat tawaf qudum atau tawaf ifadah saja. Setelah itu biasanya jamaah sudah harus berjalan sendiri-sendiri. Jamaah yang menyiapkan diri dengan pengetahuan ibadah akan lebih mungkin bisa menikmati berhaji. Mandiri, tak tergantung pembimbing, tak tergantung rombongan. Jika saat tawaf terlepas dari rombongan, bisa tetap melanjutkan ibadah sendiri. Bahkan dengan sendiri atau kelompok kecil, ibadah akan terasa lebih khusyuk. Tawaf dengan rombongan besar akan cenderung mengganggu jamaah lainnya. Apalagi jamaah Indonesia akan bertemu dengan jamaah dari Turki, Afrika, atau Iran yang juga sering dalam rombongan besar. Jika rombongan ditabrak oleh jamaah Turki yang berbadan besar-besar sudah pasti kocar-kacir.

Karena itu sebaiknya sejak dari Tanah Suci jamaah sudah menyiapkan diri untuk bisa melaksanakan semua ritual haji sendiri. Paling tidak tak terlalu menggantungkan diri pada pembimbing. Pelajari sampai paham benar tata cara pelaksanaan ibadah haji. Hafalkan doa-doa. Kalau tak bisa doa yang panjang-panjang, yang pendek-pendek juga boleh. Usahakan doa itu hafal di luar kepala sehingga saat tawaf atau sai tidak perlu membuka catatan. Dalam kerumunan ratusan ribu orang, berdesak-desakan dan panas, membaca catatan sambil berjalan akan tidak nyaman. Departemen Agama menyediakan buku doa kecil tebal dengan gantungan di leher. Di lapangan menggunakannya tak juga praktis. Sering kali tali itu tertarik atau menjerat jamaah lain sehingga mengganggu.

Setiap waktu luang bisa digunakan untuk memantapkan tata cara dan doa-doa haji. Di asrama, di atas pesawat, di bandara, di bus gunakan waktu untuk membuka buku-buku panduan haji. Bahkan saat-saat menjengkelkan seperti ketika pesawat terlambat, bus belum datang, menunggu pemeriksaan, lebih baik digunakan untuk menghafal doa daripada menggerutu dan menyesali keadaan. Departemen Agama menyediakan buku-buku panduan haji yang lengkap. Selain itu jamaah bisa membeli buku-buku panduan haji yang banyak dijual di toko-toko haji. Selain panduan ibadah, berguna juga bila jamaah membaca-baca buku tentang Makkah, Madinah, dan tempat-tempat penting di Tanah Suci.

Selain tawaf dan sai, ziarah ke makan Rasul, ke Raudhah, dan melempar jumrah bisa dilakukan tanpa harus menunggu pembimbing. Kalaupun dilakukan berkelompok, buat kecil saja. Kini banyak jamaah yang berangkat dengan sebutan haji mandiri. Mereka ini berangkat ke Tanah Suci dengan tidak bergabung pada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Dari tahun ke tahun jumlah haji mandiri mengalami peningkatan.

Jamaah haji mandiri umumnya lebih percaya diri walaupun tanpa pembimbing khusus KBIH. Mereka mengurus sendiri urusannya, tidak tergantung pada orang lain. Selain lebih nyaman, karena bisa menentukan sendiri apa yang dimaui, mereka juga tak dibebani pungutan macam-macam dari KBIH.n

Tips nyaman beribadah

-jangan tergantung pembimbing

-mantapkan tata cara berhaji

-hafalkan doa-doa

-buat kelompok kecil

Istilah-istilah Perhajian

  • HAJI ialah berkunjung ke baitullah untuk melakukan beberapa amalan thawaf, sa'i dan wukuf di Arafah serta amalan lainnya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharap ridha Nya.

  • UMRAH ialah berkunjung ke Baitullah untuk melakukan thawaf, sa'i dan cukur demi mengharap ridho Allah.SWT.

  • ISTITHA'AH artinya mampu yaitu mampu melaksanakan ibadah haji / umrah ditinjau dari segi jasmani, rohani dan ekonomi.

  • RUKUN HAJI ialah rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain walaupun dengan dam. Jika rukun haji ditinggalkan maka tidak syah hajinya.

  • WAJIB HAJI ialah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji namun bila tidak dikerjakan karena uzur syar'i sah hajinya akan tetapi harus membayar dam.

  • MIQOT ZAMANI ialah batas waktu melaksanakan haji. Menurut Jumhur ulama miqot zamani mulai tanggal 1 Syawal sampai dengan terbit fajar 10 Zulhijjah.

  • MIQOT MAKANI ialah batas tempat untuk mulai melaksanakan ihram haji atau umroh.

  • IHRAM ialah niat memulai mengerjakan ibadah haji / umrah.

  • THAWAF ialah mengelilingi ka'bah sebanyak 7 kali, dimana ka'bah selalu berada disebelah kirinya dimulai dan diakhiri di sudut (rukun) sejajar Hajar Aswad.

  • THAWAF IFADHAH ialah thawaf rukun haji yang harus dilaksanakan ( tidak boleh ditinggalkan ) dalam pelaksanaan ibadah haji.

  • THAWAF WADA' ialah thawaf yang dilaksanakan sebagai penghormatan akhir sebelum meninggalkan Makkah. Thawaf wada' hukumnya wajib dalam pelaksanaan haji.

  • THAWAF QUDUM ialah thawaf yang dilaksanakan sebagai penghormatan pada saat pertama masuk Masjidil Haram. Thawaf qudum hukumnya sunnat. Bagi jamaah haji yang mengambil haji tamattu' tawaf qudumnya sudah termasuk dalam thawaf umrah.

  • SA'I ialah berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya sebanyak 7 kali yang dimulai dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwah.

  • WUKUF ialah keberadaan diri seseorang di Arafah walaupun sejenak dalam waktu antara tergelincirnya matahari tanggal 9 Zulhijjah (hari Arafah) sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah (hari Nahar).

  • MABIT ialah bermalam / istirahat . Mabit dibagi 2 yaitu mabit di Muzdalifah tanggal 9 malam 10 Zulhijjah dan mabit di Mina pada malam menjelang tanggal 11, 12, 13 Zulhijjah.

  • LONTAR JUMROH ialah melontar atau melemparkan batu kerikil ke dinding (marma) jumrah ( Ula, Wustho dan Aqobah ) pada hari Nahar dan hari tasyrik.

  • TAHALLUL ialah keadaan seseorang yang telah dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang selama berihrom.Tahallul ada 2 yaitu Tahallul Awal dan Tahallul Tsani

  • DAM menurut bahasa artinya darah, sedangkan menurut istilah adalah mengalirkan darah (menyembelih ternak kambing, unta atau sapi di tanah haram dalam rangka memenuhi ketentuan manasik ).

  • NAFAR menurut bahasa artinya rombongan,sedangkan menurut istilah adalah keberangkatan jemaah haji meninggalkan Mina pada hari Tasyrik. Nafar ada 2 yaitu Nafar Awal dan Nafar Tsani.

  • HARI TARWIYAH yaitu hari pada tanggal 8 Zulhijjah, dinamakan hari Tarwiyah (perbekalan) karena pada hari itu jamaah haji pada zaman Rasulullah mulai mengisi perbekalan air di Mina pada hari itu untuk perjalanan ke Arafah.

  • HARI ARAFAH yaitu hari tanggal 9 Zulhijjah, dinamakan hari Arafah karena pada hari itu semua jemaah haji harus berada di Arafah untuk melaksanakan wukuf.

  • HARI TASYRIK yaitu hari tanggal 11, 12, 13 Zulhijjah. Pada hari itu semua jemaah haji berada di Mina untuk mabit dan melontar jumroh.

  • HAJI TAMATTU' ialah mengerjakan umrah lebih dahulu baru kemudian mengerjakan haji. Cara haji ini wajib membayar dam.

  • HAJI IFRAD ialah mengerjakan haji saja. Cara haji ini tidak wajib membayar dam.

  • HAJI QIRAN ialah mengerjakan haji dan umrah dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus. Cara haji ini wajib membayar dam.

Syarat, Rukun dan Wajib Haji

Syarat Haji

    • Islam

    • Baligh (dewasa)

    • Aqil ( berakal )

    • Merdeka

    • Istitha'ah

Rukun Haji

    • Ihram ( niat )

    • Wukuf di Arafah

    • Thawaf Ifadhah

    • Sa'i

    • Cukur

    • Tertib

Wajib Haji

    • Ihram yakni niat berhaji dari Miqot

    • Mabit di Muzdalifah

    • Mabit di Mina

    • Melontar Jumroh Ula, Wustho dan Aqobah

    • Thawaf Wada'